LIHAT INI,BUPATI TAPTENG MASINTON PASARIBU,JERITAN RAKYAT PINANGSORI KEHABISAN MAKANAN DIANGGAP BUKAN TERDAMPAK BENCANA

Gelombang postingan media sosial dari warga Pinangsori, Badiri, Sitardas, Gunung Marejo, Sipogu, dan berbagai wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), akhirnya membongkar fakta lapangan yang menyayat hati publik. Berbeda dari narasi resmi yang menyebut situasi terkendali, kesaksian warga justru menggambarkan kondisi yang jauh dari layak: kelaparan massal, akses jalan terputus total, listrik padam, jaringan internet mati, bahan makanan habis, toko kosong tanpa satu pun logistik tersisa, bensin dan gas habis, hingga penjarahan terpaksa terjadi karena masyarakat tidak mampu lagi menahan lapar. Di tengah situasi darurat ini, publik mendesak Bupati Tapteng Masinton Pasaribu untuk segera bertindak cepat dan menghentikan penderitaan ribuan warga yang kini berjuang mempertahankan hidup.

 

PINANGSORI NAULI — Kesaksian langsung yang viral di Facebook memperkuat kondisi kritis tersebut. Dalam unggahan Puden Htp, ia menuliskan bahwa pada 29 November 2025 sekitar pukul 10:30, ia menerima telepon dari kakaknya yang berada di wilayah Polsek Pinangsori, Tapteng. Warga dengan penuh harapan datang ke Bandara Pinangsori untuk meminta bantuan, terutama makanan, namun pihak di lokasi menyatakan bahwa warga Pinangsori tidak mendapat jatah bantuan karena dianggap tidak terdampak bencana. “Bagaimana dikatakan tidak terdampak? Wilayah terisolir, ke arah Sibolga jalanan rusak total, ke arah Batang Toru juga rusak dan tidak bisa dilewati. Bahan makanan, gas, kayu bakar, bensin semuanya sudah habis. Listrik padam, internet tidak ada, uang cash habis dan tidak bisa mengambil ke ATM. Pasar pun kosong tidak ada berjualan. Warga disana ada lansia, anak kecil, balita, bagaimana mereka bisa bertahan hidup tanpa makan?” tulisnya. Ia menambahkan bahwa telepon terputus karena penggunaan internet dibatasi pihak bandara, dan kakaknya pulang dengan badan gemetaran karena belum makan.

 

Jeritan masyarakat yang viral di Facebook dan TikTok memperlihatkan kenyataan pedih yang tidak terbantahkan. Postingan Avril Yanthie menuliskan bahwa keluarganya dan warga Pinangsori “susah kali dapatkan satu butir telur”, sambil menangis mendengar saudara di kampung gemetar kelaparan tanpa akses makanan. Warga lain, Puden Htp, menyebut bahwa mereka datang ke Bandara Pinangsori untuk meminta bantuan, namun pihak di sana mengatakan bahwa warga tidak mendapat jatah bantuan karena dianggap tidak terdampak bencana. “Bagaimana dikatakan tidak terdampak? Jalan ke Sibolga rusak total, ke Batang Toru tidak bisa dilewati, listrik padam, internet tidak ada, uang cash habis, pasar kosong, dan anak kecil serta balita sudah tidak makan,” tulisnya dalam unggahan yang kini viral.

 

Dalam pesan suara dan teks percakapan yang tersebar, warga menggambarkan situasi yang semakin kacau: Indomaret dan toko-toko dijarah, pengungsi memadati jalan, dan dapur umum hanya terpusat di GOR Pandan, yang jaraknya sangat jauh dari wilayah terdampak seperti Sipogu, Gunung Marejo, dan Sumur Mati. “Tahu busuk pun dimakan orang,” tulis salah seorang warga dengan suara bergetar. Bahkan Camat disebut nihil tindakan, dan masyarakat meminta agar semua fakta ini diviralkan supaya pemerintah bergerak.

 

Kesaksian Jhonson Silalahi pada Sabtu, 29 November 2025 pukul 11.39 WIB, menguatkan bahwa stok makanan di Desa Sitardas telah habis dan akses menuju Hutabalang terputus total. Satu-satunya solusi yang mungkin ditempuh kini adalah pengiriman logistik melalui helikopter atau perahu, karena jalur darat mustahil dilalui. “Top urgent! Kami memohon segera bantuan makanan, air bersih, dan obat-obatan,” tulisnya seraya menandai Polres Tapteng, BMKG, dan Bupati Masinton Pasaribu.

 

Video TikTok yang viral dengan caption “PENJARAHAN TERJADI DI SIBOLGA TAPTENG — WARGA KELAPARAN” memperlihatkan masyarakat terpaksa merampas barang kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Rekaman percakapan dalam link video Facebook lainnya juga menunjukkan bahwa warga mulai panik dan mengancam akan menggunakan “hukum rimba” jika bantuan tidak segera datang.

 

Sementara itu, pemerintah justru memasang status bahwa Pinangsori tidak terdampak sehingga tidak mendapat bantuan logistik. Padahal faktanya akses lumpuh, komunikasi mati, dan ribuan pengungsi menumpuk tanpa makanan. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar publik: di mana kehadiran negara?

 

Situasi kemanusiaan sudah mencapai titik kritis dan sangat berpotensi menimbulkan korban jiwa akibat kelaparan massal dan konflik horizontal. Pemerintah daerah dinilai tidak mampu menangani keadaan, sehingga publik meminta status bencana dinaikkan menjadi darurat nasional serta pengerahan helikopter TNI AU, BNPB, Basarnas, dan distribusi logistik udara secara serentak.

 

Jeritan warga telah jelas, terbuka, dan viral. Tidak ada alasan lagi untuk menunda. Bupati Tapteng Masinton Pasaribu dituntut turun langsung, dengan tindakan nyata, bukan hanya pernyataan.

 

Rakyat menunggu penyelamatan. Waktu semakin habis.

Setiap menit keterlambatan berarti ancaman nyawa.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait